Aku dilahirkan dengan banyak pilihan.
Tapi aku tak bisa memilih, kau tahu? Ada banyak orang yang berpengaruh dalam hidupku. Mereka bahkan punya hak atas diriku.
Aku masih terlalu kecil untuk menanggung semua kehidupan ku sendiri. Tidak hanya itu, Bisa jadi, masih banyak yang belum percaya akan kemampuan ku.
Ketika aku memilih setuju untuk hidup sendiri, barangkali ini akan jadi sebuah pertunjukan bahwa aku bisa melakukan hal layaknya orang dewasa lainnya lakukan.
Lalu, ini soal apa?
Masih teringat lengkap semua jejak masa lalu. Ketika umi meminta ku sekolah di tempat jauh. Dari keberatan, hingga akhirnya aku memutuskan setuju. Bukan tanpa alasan. Toh aku sudah berpikir ini sangat matang.
Aku bahkan tidak tahu, apakah penting menceritakan semua hal yang aku alami di sini? masalahnya ini terlalu banyak, terlalu rumit dan pelik. hal yang aku tidak tahu harus dibicarakan dari mana.
Waktu terus berjalan. Diantara banyak orang lain di sini, aku adalah orang penting. Tahun pertama, tahun kedua, Ketiga lebih penting lagi, tahun ke empat aku mulai bosan. tahun kelima aku sadar jika aku terus menjadi orang penting, aku tak mungkin bisa keluar dengan mudah. Dan aku memilih untuk mundur. Tapi tahun keenam, aku mulai terjebak. Ya..sejauh mana aku berlari, sesulit apa aku menghindar, aku tertangkap, dan terperangkap di dalamnya. Sebenarnya aku lelah. Tapi, lagi-lagi aku tak punya pilihan.
Di akhir tahun keenam aku bermaksud untuk mengakhiri semuanya. Aku memilih berterima kasih dengan cara yang lain. Akan ada orang yang lebih baik untuk duduk di posisi ku. Bukankah setiap orang juga akan pergi untuk menuntaskan jalannya masing-masing? Begitupun aku.
Tapi masalahnya, pimpinan meminta ku untuk tetap tinggal. Diantara banyak pilihan aku memang tidak bisa memilih. tapi. diantara dua pilihan aku lebih tidak bisa memilih. Meski aku tetap yakin keputusan awal yang akan jadi pilihan ku.
Di akhir tahun keenam aku bermaksud untuk mengakhiri semuanya. Aku memilih berterima kasih dengan cara yang lain. Akan ada orang yang lebih baik untuk duduk di posisi ku. Bukankah setiap orang juga akan pergi untuk menuntaskan jalannya masing-masing? Begitupun aku.
Tapi masalahnya, pimpinan meminta ku untuk tetap tinggal. Diantara banyak pilihan aku memang tidak bisa memilih. tapi. diantara dua pilihan aku lebih tidak bisa memilih. Meski aku tetap yakin keputusan awal yang akan jadi pilihan ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar