Nov 15th
2018
Aku
diajarkan tentang sebuah keadilan. Bahwasanya aku tidak dilahirkan seorang
diri. Ada banyak manusia yang hidup di belahan bumi yang lain. Masing-masing
kita memiliki hak dan kewajiban. Adil itu bukan berarti sama.Tapi adil adalah
sesuatu yang dengannya segala sesuatu seimbang kebutuhannya. Ketika seorang
anak laki-laki membutuhkan celana dan anak perempuan membutuhkan rok di dalam
seragam sekolah mereka. Bukankah tidak adil jika keduanya dibelikan celana atau
keduanya dibelikan rok?
Ada kalanya
aku tidak menerima ketika giliran salah satu saudaraku mendapatkan sepatu baru.
Karena itu bukan semata-mata ingin, tetapi lebih kepada sepatu lamaku layak
digunakan. Oleh karenanya aku ditunda pembeliannya. Lain waktu jika sepatuku
tak lagi bisa digunakan. Pemahaman yang tertanam kuat didalam jiwaku. Bahkan
aku tak pernah bisa marah ketika berapapun uang yang diterima oleh kedua
saudaraku. Bukankah mungkin ada saatnya aku akan mendapat uang saku lebih
banyak dari mereka? Tentunya semua itu benar-benar akan terjadi.
Aku
ingat ketika kecil , Umi sering memasakkan untuk kami sup bakso. Kulihat dengan
lihai kedua tangannya bermain dengan pisau itu untuk memotong bakso-bakso
menjadi empat bagian. Kami terbiasa makan dengan menu berbeda di pagi hari, dan
menu yang sama di siang dan malam hari. Biasanya untuk makan pagi hanya
sekedarnya saja. Untuk mengganjal perut kami sebelum memulai aktifitas.
“Masing-masing
boleh ambil bakso empat potong untuk siang dan empat potong lagi untuk malam”
Kalimat
itu biasa kami dengar di telinga kami. Itu berarti jika salah satu dari kami
ingin mengambil bakso delapan potong sekaligus di siang hari, berarti malamnya
tak ada bakso yang bertengger manis di piring. Dan jdilah sup tanpa bakso.
Secara
spontan kita akan bertanya :
“Mi,
baksonya berapa-berapa?”
Itu
jika sesekali umi lupa memberi aturan perhitungannya. Keluarga kami tidak
perhitungan. Tapi , untuk mengajarkanarti sebuah kepemilikan, menghargai hak
seseorang yang tidak boleh diambil begitu saja meski tidak dalam sepengetahuan
si pemilik.
Dan
dalam hal ini , Ayah memilih untuk diam. Mengikuti aturan Umi. Sesekali
tersenyum dengan tingkah kami.
“Yah,
Minta baksonya satu ya!!”
Atau
jika ayah pulang larut malam dan tidak sempat makan malam di rumah.
“Umi,
Ayah belum pulang, baksonya buat aku ya,!”
Lalu
kami berlari menuju panci dan mengaduk aduk isi sup kemudian kami bagi rata
Masa-masa
itu terlalu indah bukan? Sekarang kami tak lagi makan dalam satu waktu. Ketika
kami semua pergi dengan pilihan kami masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar