Minggu, 01 September 2019

Adil


Nov 15th 2018
Aku diajarkan tentang sebuah keadilan. Bahwasanya aku tidak dilahirkan seorang diri. Ada banyak manusia yang hidup di belahan bumi yang lain. Masing-masing kita memiliki hak dan kewajiban. Adil itu bukan berarti sama.Tapi adil adalah sesuatu yang dengannya segala sesuatu seimbang kebutuhannya. Ketika seorang anak laki-laki membutuhkan celana dan anak perempuan membutuhkan rok di dalam seragam sekolah mereka. Bukankah tidak adil jika keduanya dibelikan celana atau keduanya dibelikan rok?
Ada kalanya aku tidak menerima ketika giliran salah satu saudaraku mendapatkan sepatu baru. Karena itu bukan semata-mata ingin, tetapi lebih kepada sepatu lamaku layak digunakan. Oleh karenanya aku ditunda pembeliannya. Lain waktu jika sepatuku tak lagi bisa digunakan. Pemahaman yang tertanam kuat didalam jiwaku. Bahkan aku tak pernah bisa marah ketika berapapun uang yang diterima oleh kedua saudaraku. Bukankah mungkin ada saatnya aku akan mendapat uang saku lebih banyak dari mereka? Tentunya semua itu benar-benar akan terjadi.
Aku ingat ketika kecil , Umi sering memasakkan untuk kami sup bakso. Kulihat dengan lihai kedua tangannya bermain dengan pisau itu untuk memotong bakso-bakso menjadi empat bagian. Kami terbiasa makan dengan menu berbeda di pagi hari, dan menu yang sama di siang dan malam hari. Biasanya untuk makan pagi hanya sekedarnya saja. Untuk mengganjal perut kami sebelum memulai aktifitas.
“Masing-masing boleh ambil bakso empat potong untuk siang dan empat potong lagi untuk malam”
Kalimat itu biasa kami dengar di telinga kami. Itu berarti jika salah satu dari kami ingin mengambil bakso delapan potong sekaligus di siang hari, berarti malamnya tak ada bakso yang bertengger manis di piring. Dan jdilah sup tanpa bakso.
Secara spontan kita akan bertanya :
“Mi, baksonya berapa-berapa?”
Itu jika sesekali umi lupa memberi aturan perhitungannya. Keluarga kami tidak perhitungan. Tapi , untuk mengajarkanarti sebuah kepemilikan, menghargai hak seseorang yang tidak boleh diambil begitu saja meski tidak dalam sepengetahuan si pemilik.
Dan dalam hal ini , Ayah memilih untuk diam. Mengikuti aturan Umi. Sesekali tersenyum dengan tingkah kami.
“Yah, Minta baksonya satu ya!!”
Atau jika ayah pulang larut malam dan tidak sempat makan malam di rumah.
“Umi, Ayah belum pulang, baksonya buat aku ya,!”
Lalu kami berlari menuju panci dan mengaduk aduk isi sup kemudian kami bagi rata
Masa-masa itu terlalu indah bukan? Sekarang kami tak lagi makan dalam satu waktu. Ketika kami semua pergi dengan pilihan kami masing-masing.

Tidak ada komentar:

Sebutir Kurma

"Mbak liat video yang kemaren itu yuk..." "Video yang mana dek?" "Itu Lo mbak yang ada tiga.. aku aja masih inget. ...