Aku tidak tahu aku terlalu
naif atau bodoh
Aku akui memang kenyataanya seperti itu. Sejak pagi
tadi ada perasaan yang entah mengapa mengusik kehidupanku. Perasaan ynag
sedikit menjadi beban dalam hidupku. Mungkin kalian semua heran. Sama halnya dengan
aku. Bahkan aku adalah orang yang ikut andil di dalamya.
Seharusnya aku tidak marah. Karena toh aku adalah orang
yang benar –benar mengenalnya. Tetapi juatru setan halus di telinga kriku
menginginkan dia mengerti perasaanku saat itu. Perasaan bahwasannya aku tidak
pernah suka dengan pekerjaan itu sedikitpun. Tapi wajah–wajah tulus mereka,
wajah–wajah letih mereka membuat hatiku tergerak untuk sedikit membantunya.
Meskipun aku hanyalah emergency person , yang akan dipanggil jika deadline
menumpuk. Dan aku tidak keberatan.
Tapi begitulah waktu, yang terkadang terasa lebih cepat
dari apa yang kita inginkan. Hingga malaikat baik terlambat mampir di telinga
kananku. Mulutku telah kalut untuk mengikuti kemauan setan telinga kiri dan
akhirnya terucaplah sebuah kata pembelaan. Itu menurut nya. Entah bagi dia,
mungkin kata-kata yang menyakitkan. Setan telinga kiriku bilang bahwa kata
maafnya yang sempat terlontar jauh lebih menyakitkan lagi.
Dan
begitulah hidup. Terkadang keadaanlah yang membuat seolah-olah semuanya
berubah. Bukankah perbedaan ruang dan waktu menjadikan pembicaraan dan arah
tujuan menjadi berbeda. Tapi perbedaanlah yang menjadikan itu semua terasa
lucu. Kau pun juga tahu tak selamanya jalan itu terasa mulus bukan?
Dulu,
ketika kita masih berpijak di tanah yang sama. Ada hal yang mungkin tidak semua
dari mereka tahu itu. Sama halnya dengan kita yang tidak semua dari mereka yang
kita tahu. Dan ketika Tuhan memberikan kesempatan bagimu untuk menjadi mereka
yang tidak pernah kita pahami.
Dulu
aku berpikir bahwa aku tidak mungkin meninggalkan kamu di tempat yang sama-sama
tidak kita senangi. Rasanya tidak adil jika aku lebih beruntung dari kamu.
Kerena kaupun juga yang membuatku merasa aman di sana. Adalah satu yang menjadi
alasan aku memimilih untuk menjadi pekerja pasif.
Meski
banyak dari mereka tidak suka dengan caramu, toh tetap aku pertahankan.
Bukankah aku ingin main dengan siapa saja yang juga ingin main denganku? Lalu
apa yang mereka pedulikan ? jika saja mereka juga ingin bermain denganku aku
persilahkan untuk datang juga?
JJJJ
Ada hal yang sebelumnya tidak
pernah aku duga. Aku bisa pulang
13 Januari 2019
Bukan alasan itu aku ingin
menyelesaikan semuanya. Bukan. Tapi semua sudut ruangan itu mengingatkan aku
tentang mereka. Bercengkrama. Saling mengolok. Melempar. Menangis bersama.
Sampai akhirnya semua pulih. Pada keadaan semula.
Sejatinya aku rindu. Amat
rindu malah. Ingatanku kembali ke beberapa tahun silam. Ketika dia datang
dengan muka merah padam. Umi benar. Dia tak benar-benar jahat. Tapi dia tidak
bisa mengungkapkan rasa sayang itu. Sederhan bukan? Sesederhana aku menyimpulkan
semua itu dulu. Tak pernah peduli akan posisi yang dia rasakan dulu. Kenapa
pula pengertian ini bisa datang terlambat. Disaat keadaan memaksa kita untuk
tidak bersama lagi. Entah sampai kapan. Atau kesempatan itu tidak ada sama
sekali. Mungkin ada, dengan perasaan yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar