Minggu, 01 September 2019

Perasaan


Aku tidak tahu aku terlalu naif atau bodoh
Aku akui  memang kenyataanya seperti itu. Sejak pagi tadi ada perasaan yang entah mengapa mengusik kehidupanku. Perasaan ynag sedikit menjadi beban dalam hidupku. Mungkin kalian semua heran. Sama halnya dengan aku. Bahkan aku adalah orang yang ikut andil di dalamya.
            Seharusnya aku tidak marah. Karena toh aku adalah orang yang benar –benar mengenalnya. Tetapi juatru setan halus di telinga kriku menginginkan dia mengerti perasaanku saat itu. Perasaan bahwasannya aku tidak pernah suka dengan pekerjaan itu sedikitpun. Tapi wajah–wajah tulus mereka, wajah–wajah letih mereka membuat hatiku tergerak untuk sedikit membantunya. Meskipun aku hanyalah emergency person , yang akan dipanggil jika deadline menumpuk. Dan aku tidak keberatan.
            Tapi begitulah waktu, yang terkadang terasa lebih cepat dari apa yang kita inginkan. Hingga malaikat baik terlambat mampir di telinga kananku. Mulutku telah kalut untuk mengikuti kemauan setan telinga kiri dan akhirnya terucaplah sebuah kata pembelaan. Itu menurut nya. Entah bagi dia, mungkin kata-kata yang menyakitkan. Setan telinga kiriku bilang bahwa kata maafnya yang sempat terlontar jauh lebih menyakitkan lagi.
Dan begitulah hidup. Terkadang keadaanlah yang membuat seolah-olah semuanya berubah. Bukankah perbedaan ruang dan waktu menjadikan pembicaraan dan arah tujuan menjadi berbeda. Tapi perbedaanlah yang menjadikan itu semua terasa lucu. Kau pun juga tahu tak selamanya jalan itu terasa mulus bukan?
Dulu, ketika kita masih berpijak di tanah yang sama. Ada hal yang mungkin tidak semua dari mereka tahu itu. Sama halnya dengan kita yang tidak semua dari mereka yang kita tahu. Dan ketika Tuhan memberikan kesempatan bagimu untuk menjadi mereka yang tidak pernah kita pahami.
Dulu aku berpikir bahwa aku tidak mungkin meninggalkan kamu di tempat yang sama-sama tidak kita senangi. Rasanya tidak adil jika aku lebih beruntung dari kamu. Kerena kaupun juga yang membuatku merasa aman di sana. Adalah satu yang menjadi alasan aku memimilih untuk menjadi pekerja pasif.
Meski banyak dari mereka tidak suka dengan caramu, toh tetap aku pertahankan. Bukankah aku ingin main dengan siapa saja yang juga ingin main denganku? Lalu apa yang mereka pedulikan ? jika saja mereka juga ingin bermain denganku aku persilahkan untuk datang juga?
JJJJ
Ada hal yang sebelumnya tidak pernah aku duga. Aku bisa pulang






13 Januari 2019
Bukan alasan itu aku ingin menyelesaikan semuanya. Bukan. Tapi semua sudut ruangan itu mengingatkan aku tentang mereka. Bercengkrama. Saling mengolok. Melempar. Menangis bersama. Sampai akhirnya semua pulih. Pada keadaan semula.
Sejatinya aku rindu. Amat rindu malah. Ingatanku kembali ke beberapa tahun silam. Ketika dia datang dengan muka merah padam. Umi benar. Dia tak benar-benar jahat. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan rasa sayang itu. Sederhan bukan? Sesederhana aku menyimpulkan semua itu dulu. Tak pernah peduli akan posisi yang dia rasakan dulu. Kenapa pula pengertian ini bisa datang terlambat. Disaat keadaan memaksa kita untuk tidak bersama lagi. Entah sampai kapan. Atau kesempatan itu tidak ada sama sekali. Mungkin ada, dengan perasaan yang berbeda.





Tidak ada komentar:

Sebutir Kurma

"Mbak liat video yang kemaren itu yuk..." "Video yang mana dek?" "Itu Lo mbak yang ada tiga.. aku aja masih inget. ...