Pagi itu,
Aku
Akhirnya benar-benar pulang. Pagi itu, dengan kereta api Logawa Jember-Kutorjo.
Aku menaiki dengan pasti. Duduk bersandar. Entah sudah berapa jam lamanya aku
menunggu sampai kereta bergerak. Kebetulan beberapa bulan yang lalu jam
tanganku mati. Aku tidak tahu pasti. Awalnya aku ragu pergi tanpa petunjuk
waktu. Handphoneku juga rusak parah. Tapi, apa mau dikata. Aku pasrah dan
membiarkan semua mengalir begitu saja.
Akhirnya
kereta bergerak juga. Tidak ada yang berberda dari isi kereta. Semua terasa
sama. AC yang memenuhi semua ruangan membuatku enggan unuk melepas jaket
tipisku. Kursi kereta saling berhadapan satu sama lain. Sebuah jalan membelah
menjadi dua sisi kanan dan kiri. Aku sama sekali tidak mengantuk. Entah apa
yang akan ak lakukan nanti. Aku sudah mempersiapkan banyak hal. Bantal untuk
tidur, Buku bacaan, dan satu kantong plastik makanan. Bahkan aku mempersiapkan
alat mandi, mungkin aku ingin mandi. Hal yang mungkin bisa digunakan untuk
membunuh waktu. Ternyata satupun tak ada yang aku sentuh. Hanya bantal yang
tetap bertengger di leherku. Dan satu kotak susu untuk mengisi perut, supaya
tak terlalu merasa bersalah. Aku bahkan sama sekali tidak beranjak dari tempat
dudukku hanya sekedar untuk meluruskan kaki. Hanya sedikit merubah posisi.
Sampai akhirnya datang seorang Ibu yang harusnya duduk disamping kanan ku. Dan
aku harus berdiri untuk memberi jalan untuk si ibu.
Aku
pikir, saat itu aku benar-benar akan melakukan semua hal yang aku persiapkan
itu. Nyatnya tidak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar