Rabu, 27 November 2019

Sebuah Kata Yang aku Benci "KASIHAN"

Untuk memutuska sebuah keputusan, bahkan aku harus memikirkanyya matang matang. Aku tahu itu teralu membuang buang waktu. Tapi kurasa aku telah mengambil keputusan yang tepat.
            Malam itu umi mnelponku. Entah sudah berapa kali dalam sehari umi mengtakannya. Dan untuk pertama kalinya aku merasa bosan. Cepat pergi dan temui!. Aku tahu Dia adalah orang penting. Umi tak punya sosok ayah. Mungkin pernah, tapi aku tidak yakin hubungannya dekat. Bagaimana tidak? Mereka bahkan tidak tinggal bersama. Hanya kabar dan uang saja yang sampai. Mungkin umi menganggap dia adalah ayahnya. Kurasa begitu. Aku juga menyayanginya. Aku tak punya seorang kakek. Setidaknya Dia adalah figur kakek untukk. Dan aku berperan sebagai seoarnga cucu dari anak kesayangannya. Aku sagat berhutang budi padanya. Tapi adakah cara lain untuk menyayanginya. Apakah munkin bisa jadi ada orang yang salah tangkap aatas tingkah lakuku yang tiba tiba saja datang kesana. Mungkin dia tidak. Tapi orang lain. Anak anaknya. Bahkan untuk memutuskan untuk kesana atau tidak, lebih sulit dari sekerdar menyelesikan rumus matematika. Atu menterjemahkan artikel bahasa inggris. Aku tak punya pililihan lain. Sesuai tujuan brliburku adalah menjenguk masa lalu. Dan dia adalah sebagian dari masa lalu aku. 
            Aku dibesarkan dilingkungan orang-orang yang menyayangiku. Mereka yang selalu memujuiku. Dalam banyak hal. Semua yang aku miliki. Bahkan apa yang tidak aku miliki. Dulu aku merasa semuanya cukup. Aku tidak tahu dunia luar yang ternyata bernasib lebih baik. Aku merasa sudah baik-baik saja. Nyatanya tidak. Aku ternyata menyedihkan. Tanpa aku sadari. Aku terlalu bersyukur. Hingga aku tak menyadari bahwa ak tak pernah memiliki semuanya. Tentu aku bahagia karena mereka membuat aku mersa semua akan baik baik saja.
            Ketika aku melangkahkan kakiku keluar. Aku sudah memutuskan dan aku tidak mau liburanku gagal. Setelah bertengkar dengan egoku. Aku berangkat membuang rasa malu. Tujuanku satu. Aku hanya ingin melihatnya. Dan memastikan dia baik baik saja. Keadaan saat ini sedang erpihak pada ku. Keadaan rumah sepi. Mungkin mereka sudah pulang. Aku mengucapkan salam. Orang yang sangat familiar keluar memandangiku. Entah aku lupa siapa dia. Tapi aku tahu dia anaknya . Syukurlah, dia mengenaliku. Menyebut namaku. Dan mempersilahkan aku masuk. Aku sedih aku melihatnya dia seperti ini. Duduk mentap kedepan disebuah kursi. Dengan togkatnya. Dan dia masih mengingatku. Usianya mungkin sudah delapan puluhan. Dan kekuatan fisiknya melemah. Kulihat dari tangannya yang mulai bergetar. Tapi ingatannya tajam. Bahasa yang digunakan untuk percakapan ssangat ilmiah. Seperti mantan profesor di zamannya. Penyakit dan fisiknya yang tua bahkan tak bisa mengalahkan otak cerdasnya. Didampingi kedua anak perempuanyya. Kami Bercakap panjang lebar. Menceritakan banyak hal. Masa lalu ketika kami kecil. Dan sedikit lelucon sederhana. Bertanya soal sekolah dan aktiitasku. Jujur aku malu. Sangat malu karena aku tak berarti apa apa. Aku tidak menjelaskan semuanya. Karena aku tahu mereka akan bingung. Biarkan mereka berpikir dengan amunisi mereka sendiri. Aku tak peduli mereka beranggapan apa. Meski aku tahu mereka sangat miris. Dan perasaan yang aku tidak suka dilakukan orang lain atas diriku adalah kasihan. Ya aku yakin mereka semua kasihan. Dan aku benci itu.
            Dari situ aku sadar aku berkesimpulan bahwa semua orang yang menyayangiku dulu, menyayangi atas apa yang aku punya maupun sesuatu yang tidak aku punya sama sekali adalah karena mereka kasihan. 

Tidak ada komentar:

Sebutir Kurma

"Mbak liat video yang kemaren itu yuk..." "Video yang mana dek?" "Itu Lo mbak yang ada tiga.. aku aja masih inget. ...