Untuk memutuska sebuah keputusan,
bahkan aku harus memikirkanyya matang matang. Aku tahu itu teralu membuang
buang waktu. Tapi kurasa aku telah mengambil keputusan yang tepat.
Malam
itu umi mnelponku. Entah sudah berapa kali dalam sehari umi mengtakannya. Dan
untuk pertama kalinya aku merasa bosan. Cepat pergi dan temui!. Aku tahu Dia
adalah orang penting. Umi tak punya sosok ayah. Mungkin pernah, tapi aku tidak
yakin hubungannya dekat. Bagaimana tidak? Mereka bahkan tidak tinggal bersama.
Hanya kabar dan uang saja yang sampai. Mungkin umi menganggap dia adalah
ayahnya. Kurasa begitu. Aku juga menyayanginya. Aku tak punya seorang kakek.
Setidaknya Dia adalah figur kakek untukk. Dan aku berperan sebagai seoarnga
cucu dari anak kesayangannya. Aku sagat berhutang budi padanya. Tapi adakah
cara lain untuk menyayanginya. Apakah munkin bisa jadi ada orang yang salah
tangkap aatas tingkah lakuku yang tiba tiba saja datang kesana. Mungkin dia
tidak. Tapi orang lain. Anak anaknya. Bahkan untuk memutuskan untuk kesana atau
tidak, lebih sulit dari sekerdar menyelesikan rumus matematika. Atu
menterjemahkan artikel bahasa inggris. Aku tak punya pililihan lain. Sesuai
tujuan brliburku adalah menjenguk masa lalu. Dan dia adalah sebagian dari masa
lalu aku.
Aku
dibesarkan dilingkungan orang-orang yang menyayangiku. Mereka yang selalu
memujuiku. Dalam banyak hal. Semua yang aku miliki. Bahkan apa yang tidak aku
miliki. Dulu aku merasa semuanya cukup. Aku tidak tahu dunia luar yang ternyata
bernasib lebih baik. Aku merasa sudah baik-baik saja. Nyatanya tidak. Aku
ternyata menyedihkan. Tanpa aku sadari. Aku terlalu bersyukur. Hingga aku tak
menyadari bahwa ak tak pernah memiliki semuanya. Tentu aku bahagia karena
mereka membuat aku mersa semua akan baik baik saja.
Ketika
aku melangkahkan kakiku keluar. Aku sudah memutuskan dan aku tidak mau
liburanku gagal. Setelah bertengkar dengan egoku. Aku berangkat membuang rasa
malu. Tujuanku satu. Aku hanya ingin melihatnya. Dan memastikan dia baik baik
saja. Keadaan saat ini sedang erpihak pada ku. Keadaan rumah sepi. Mungkin
mereka sudah pulang. Aku mengucapkan salam. Orang yang sangat familiar keluar
memandangiku. Entah aku lupa siapa dia. Tapi aku tahu dia anaknya . Syukurlah,
dia mengenaliku. Menyebut namaku. Dan mempersilahkan aku masuk. Aku sedih aku
melihatnya dia seperti ini. Duduk mentap kedepan disebuah kursi. Dengan
togkatnya. Dan dia masih mengingatku. Usianya mungkin sudah delapan puluhan.
Dan kekuatan fisiknya melemah. Kulihat dari tangannya yang mulai bergetar. Tapi
ingatannya tajam. Bahasa yang digunakan untuk percakapan ssangat ilmiah.
Seperti mantan profesor di zamannya. Penyakit dan fisiknya yang tua bahkan tak
bisa mengalahkan otak cerdasnya. Didampingi kedua anak perempuanyya. Kami
Bercakap panjang lebar. Menceritakan banyak hal. Masa lalu ketika kami kecil.
Dan sedikit lelucon sederhana. Bertanya soal sekolah dan aktiitasku. Jujur aku
malu. Sangat malu karena aku tak berarti apa apa. Aku tidak menjelaskan
semuanya. Karena aku tahu mereka akan bingung. Biarkan mereka berpikir dengan
amunisi mereka sendiri. Aku tak peduli mereka beranggapan apa. Meski aku tahu
mereka sangat miris. Dan perasaan yang aku tidak suka dilakukan orang lain atas
diriku adalah kasihan. Ya aku yakin mereka semua kasihan. Dan aku benci itu.
Dari situ aku sadar aku
berkesimpulan bahwa semua orang yang menyayangiku dulu, menyayangi atas apa
yang aku punya maupun sesuatu yang tidak aku punya sama sekali adalah karena
mereka kasihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar