Rabu, 27 November 2019

Ekspedisi Jogja


Hari kedua Liburanku.
            Sesuai rencana, pagi itu aku pergi ke Gunung Kidul, Sebuah Kota Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini yang kedua kalinya aku kesana bersama ayah. Setelah ayah pulang, kami bersiap siap. Memasukkan air mineral ke dalam tas, sekotak buah mangga dingin yang sudah terpotong dan aneka jajan lainnya. Ini perjalanan penting bagiku, bagi kami.
            Seseorang menunggu kami di sana. Di sebuah Pondok Pesantren Tahfidz. Shifa. Ya..Kami Akn bertemu dengannya nanti. Perjalanan memakan waktu + 2 jam. Dan Aku ingin menikmati perjalanan panjang itu. Melewati sebuah rel kereta api, Jalanan ramai, lampu lalu lintas. Pasar, masjid sekolah, gedung yang berserakan. Orang berlalu lalang. Dulu ketika aku kecil, bahkan kebingungan ketika bermain orang orang-an, bisa menemukan orang sebanyak kenyatannya. Dan aku masih kagum. International Airpot Of Yogyakarta Angkasa Pura terbentang luas sejauh mata memandang. Meski nampak belum sempurna, aku yakin suatu saat nanti setelah bandara ini dibuka, kota ini akan sangat ramai. Aku bahkan tak bisa melihat ujungnya. Menyenangkan sekali. Aku sepoi sepoi menerpa wajahku. Lembut. Aku bahkan bisa melupakan hal hal menyedihakn. Rasanya amat bahagia jika aku bisa seperti ini. Duduk diatas sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
            Setelah sholat dhuhur dan istirhat sejenak, kami melanjutkan perjalanan kami. Lurus belok kanan, kiri. Kami melewat sebuah pegnungan dengan jalanan naik turun yang curam. Sedikit mengerikan. Tapi aku tak nampak khawatir. Bagaimana tidak? Ayah adalah pengendara motor yang berbakat. Profesional. Pengalaman jatuh ang berulang-ulang bukan malah menjadikannya trauma, bahkan ia lbih terampil mengendarainya.
            Di sebuah daerah kecamatan Dlingo. Dimana kami melintasi jalan yang kairi tebing dan kaanan jurang. Ketika itu kami berada tepat dibelakang pick up berwarna kuning khas truk. Tiba tiba, pick up itu berjalan pelan. Ayah dengan gesit memperlambat lajunya. Sekilas sebuah bis merah kecil berlawanan arah didepan pick up kuning. Bis itu mengeluarkan asap hitam. Daalm sekejap kami tak melihatnya lagi. Pick up kuning berhenti. Pengemudi pick up keluar. Ayah berhenti. Saat itu aku tak menyadari apa yang terjadi. Naas, Bis itu tak kuat menanjak hingga mundur dan masuk ke jurang dengan posisi miring. Jeritan dan tangis pecahmulai terdengar. Setelah mereka sadar mereka masih hidup. Aku turun dari motor beranjak pergi mengikuti langkah ayah. Ayah melempar helm kemudian menuju tempat kejadian. Disana dua orang laki laki sudah turun ke jurang. Bahkan aku tak menyadari bahawa salah satu diantara mereka berdua adalah sopir yang berhasil keluar duluan. Dan satunya, mungkin seorang pelajar bersepeda motor yang kebetulan lewat. Disusul para warga yang kebetulan jalan di daerah itu. Sekitar 5 orang laki laki berestafet mnyambut tangan demi tanagan untuk dinaikkan dipinggir jalan. Ayah berdiri paling atas. Aku dijalan menunggu dengan panik. Aku gemetar, Entah pa yang akan aku lakukan jika nanti aku menemukan krban yang berdarah darah bahakan sampai mati. Aku malah meragujkan kemampuanku dalam menolong orang lain. Aku tak pernah diposisi ini sebelumnya. Setelah tarik napas dan meyakinkan diriku semuanya akan bak baik saja. Aku menerima uluran tangan seorang ibu muda. Dia tampak sangat shok bercampur khwawatir akan orang orang yang masih berada di dalam bis. Satu persatu orang telah dikeluakan. Dengan ekspresi merka yang tampak bermacam macam. Takut. Gelisah bahagia bersyukur, jadi satu.

Tidak ada komentar:

Sebutir Kurma

"Mbak liat video yang kemaren itu yuk..." "Video yang mana dek?" "Itu Lo mbak yang ada tiga.. aku aja masih inget. ...