Hari kedua Liburanku.
Sesuai
rencana, pagi itu aku pergi ke Gunung Kidul, Sebuah Kota Di Daerah Istimewa
Yogyakarta. Ini yang kedua kalinya aku kesana bersama ayah. Setelah ayah
pulang, kami bersiap siap. Memasukkan air mineral ke dalam tas, sekotak buah
mangga dingin yang sudah terpotong dan aneka jajan lainnya. Ini perjalanan penting
bagiku, bagi kami.
Seseorang
menunggu kami di sana. Di sebuah Pondok Pesantren Tahfidz. Shifa. Ya..Kami Akn
bertemu dengannya nanti. Perjalanan memakan waktu + 2 jam. Dan Aku ingin
menikmati perjalanan panjang itu. Melewati sebuah rel kereta api, Jalanan
ramai, lampu lalu lintas. Pasar, masjid sekolah, gedung yang berserakan. Orang
berlalu lalang. Dulu ketika aku kecil, bahkan kebingungan ketika bermain orang
orang-an, bisa menemukan orang sebanyak kenyatannya. Dan aku masih kagum.
International Airpot Of Yogyakarta Angkasa Pura terbentang luas sejauh mata
memandang. Meski nampak belum sempurna, aku yakin suatu saat nanti setelah
bandara ini dibuka, kota ini akan sangat ramai. Aku bahkan tak bisa melihat
ujungnya. Menyenangkan sekali. Aku sepoi sepoi menerpa wajahku. Lembut. Aku
bahkan bisa melupakan hal hal menyedihakn. Rasanya amat bahagia jika aku bisa
seperti ini. Duduk diatas sepeda motor dengan kecepatan tinggi.
Setelah
sholat dhuhur dan istirhat sejenak, kami melanjutkan perjalanan kami. Lurus
belok kanan, kiri. Kami melewat sebuah pegnungan dengan jalanan naik turun yang
curam. Sedikit mengerikan. Tapi aku tak nampak khawatir. Bagaimana tidak? Ayah adalah
pengendara motor yang berbakat. Profesional. Pengalaman jatuh ang
berulang-ulang bukan malah menjadikannya trauma, bahkan ia lbih terampil
mengendarainya.
Di
sebuah daerah kecamatan Dlingo. Dimana kami melintasi jalan yang kairi tebing
dan kaanan jurang. Ketika itu kami berada tepat dibelakang pick up berwarna
kuning khas truk. Tiba tiba, pick up itu berjalan pelan. Ayah dengan gesit
memperlambat lajunya. Sekilas sebuah bis merah kecil berlawanan arah didepan
pick up kuning. Bis itu mengeluarkan asap hitam. Daalm sekejap kami tak
melihatnya lagi. Pick up kuning berhenti. Pengemudi pick up keluar. Ayah
berhenti. Saat itu aku tak menyadari apa yang terjadi. Naas, Bis itu tak kuat
menanjak hingga mundur dan masuk ke jurang dengan posisi miring. Jeritan dan tangis
pecahmulai terdengar. Setelah mereka sadar mereka masih hidup. Aku turun dari
motor beranjak pergi mengikuti langkah ayah. Ayah melempar helm kemudian menuju
tempat kejadian. Disana dua orang laki laki sudah turun ke jurang. Bahkan aku
tak menyadari bahawa salah satu diantara mereka berdua adalah sopir yang
berhasil keluar duluan. Dan satunya, mungkin seorang pelajar bersepeda motor
yang kebetulan lewat. Disusul para warga yang kebetulan jalan di daerah itu.
Sekitar 5 orang laki laki berestafet mnyambut tangan demi tanagan untuk dinaikkan
dipinggir jalan. Ayah berdiri paling atas. Aku dijalan menunggu dengan panik.
Aku gemetar, Entah pa yang akan aku lakukan jika nanti aku menemukan krban yang
berdarah darah bahakan sampai mati. Aku malah meragujkan kemampuanku dalam
menolong orang lain. Aku tak pernah diposisi ini sebelumnya. Setelah tarik napas
dan meyakinkan diriku semuanya akan bak baik saja. Aku menerima uluran tangan
seorang ibu muda. Dia tampak sangat shok bercampur khwawatir akan orang orang
yang masih berada di dalam bis. Satu persatu orang telah dikeluakan. Dengan ekspresi
merka yang tampak bermacam macam. Takut. Gelisah bahagia bersyukur, jadi satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar